(Tulisan 19 Februari, jelang Leg 1, Milan vs Barcelona)
Kamis dini hari nanti, waktu
Indonesia bagian barat, akan berulang lagi untuk kelima kalinya dalam dua tahun
terakhir, satu duel yang punya cerita panjang dalam sejarah sepakbola antar
klub eropa, Milan vs Barcelona.
Ya, untuk yang kelima kalinya dalam
dua tahun terakhir, sebuah catatan yang menarik, untuk dua klub besar Eropa.
Duel sarat gengsi yang sudah barang tentu mendebarkan bagi kedua kubu, terlebih
Milan, yang beberapa tahun terakhir, kualitasnya di atas rumput tidak pernah lebih
meyakinkan dari Barcelona.
Kita hitung saja dari pertemuan di
dua tahun terakhir itu, dalam empat pertemuan, Milan tercatat hanya mampu meraup
2 poin dari kemungkinan dua belas poin, Barca? 6 poin lebih banyak, 8.
Cukup menciutkan nyali, tertuma bagi klub
dengan retasan sejarah seperti Milan, yang diaku banyak orang, sebenarnya sedikit
lebih harum dari klub asal Spanyol tersebut.
Tapi bagi yang mengikuti duel ini,
mungkin merasakan apa yang saya rasakan, bahwa duel ini tak pernah begitu keras
dan berapi-api seperti laiknya dua klub besar bertempur? Kita flashback dari
awal perjumpaan sejak Max Allegri menukangi Milan, dua setengah tahun silam..
Di jumpa pertama, yang berakhir 2-2, Milan
sempat “menjanjikan” saat unggul cepat saat pertandingan belum sampai satu
menit, melalui Pato, setelah itu pertandingan berjalan lambat sampai pelan-pelan
Barcelona berbalik unggul 2-1. Tempo tak
juga meninggi di babak kedua bahkan hingga menit akhir, saat kedua klub sudah “malas-malasan”
bermain dan sepertinya Barca terlihat akan memenangi laga, di satu peluang
terakhir yang tidak disangka-sangka, dari satu tendangan penjuru, Milan
berhasil menyamakan kedudukan, lewat sundulan Thiago Silva.
Di jumpa kedua, (mungkin adalah yang
paling menggigit), kali ini Milan menjadi tuan rumah, Barca unggul 3-2. Beberapa
hal menarik terjadi, gol Solo run Ibra dari sisi Alves, Boateng dengan gol
kelas dunianya, Xavi dengan tendangan dari luar kotak pinalti, tempo dan emosi
yang sedikit lebih panas, selebihnya? Satu gol bunuh diri Van Bommel, satu gol pinalti
Leo Messi.
Di jumpa ketiga, kembali terjadi di
san siro, di leg 1 babak perempat final, ini adalah laga yang paling “sopan”,
dengan hasil kaca mata, 0-0.
Di jumpa terakhir, di leg kedua,
Barca melibas Milan 3-1, satu pertandingan yang kehilangan gairahnya ketika
Barca berhasil merubah skor 1-1, menjadi 2-1, melalui pinalti kedua Messi di
babak pertama (“pelanggaran” berupa tarikan baju ringan Nesta pada pemain barca
sebelum bola ditendang dari corner) dan ketiganya dalam 4 pertandingan
terakhir. Sampai kemudian Iniesta melengkapi dominasi klubnya atas Milan di
menit 53. 3-1.
“Lesu”nya tensi permainan, mungkin
disebabkan banyak hal, namun rasa saling kagum dan hormat pada masing-masing, secara
tidak sadar ikut mempengaruhi apa yang terjadi di lapangan, rasa saling
menghormati? Ya, seperti yang berulang-ulang diutarakan pemain, pelatih, bahkan
pejabat dari kedua kubu di media-media massa, seperti yang diutarakan Xavi, “Milan
adalah klub hebat, dengan tujuh gelar liga champions”. Xavi jelas tidak sedang
bersikap sopan, Ia hanya sadar bahwa Barca tak boleh jumawa, satu hal yang
beresiko tapi seperti halnya resiko, jumawa juga berpeluang membuat Barca
mempermalukan Milan, tentu dengan pegangan apa yang mereka punya sekarang.
Bagaimana harapan pada dua duel di
depan nanti, akan seperti apa jalannya pertandingan? Sulit untuk menebak,
setidaknya saya, hilangnya pemain-pemain yang berpotensi membawa permainan pada
tensi tinggi, terutama dari kubu Milan, seperti Ibra, Cassano, Gattuso, atau
Nesta, bisa jadi akan semakin memperparah, terlebih duel ini juga akan
kehilangan Mario Balotelli dan David Villa, dua pemain yang punya potensi
membuat pertandingan jadi sebuah pertempuran (Milan juga masih menunggu
kepulihan El Sharaawy).
Sekarang kita lihat sedikit catatan
kedua kubu di laga home and away musim ini?
Torehan Milan musim ini di san siro,
di ajang Liga Champions sangat buruk, hanya mampu meraup 2 dari kemungkinan 9.
Namun, angin positif datang dari 6 pertandingan terakhir mereka di san siro, mereka
sanggup meraup poin maksimal, 18 poin, mencetak 13 gol dan kebobolan 5 gol. Bahkan
poin yang diraih Milan di tahun 2013 ini, lebih banyak dari klub manapun di
seri-a, termasuk Juventus, sang pemuncak klasemen. Bekal yang mungkin bisa
mengangkat moril anak asuh Max Allegri itu.
Nah, yang jadi soal adalah torehan
barca di laga away mereka musim ini begitu meyakinkan, hanya 1 kali kalah, mereka
mencatat 2 imbang dan 11 kali menang, mencetak 40 gol dan kemasukan 18 di 13
laga. Dengan total memenangi 21 dari 24 pertandingan di liga musim ini, membawa
mereka bertengger di puncak klasemen, unggul 16 poin dari seteru abadi real
Madrid yang berada di posisi ketiga, dan 12 poin dari peringkat kedua, Atletico
Madrid (Di Liga Champions, dari 3 laga away, Barca meraup 6 poin dari maksimal
9).
Sulit untuk tidak mencatut Lionel
Messi pada tulisan ini, kendati Leo punya catatan yang tidak mengkilau jika
bersua dengan klub asal Italia, dengan hanya mencetak 3 goal (semua pinalti)
dari 8 pertandingan, Messi berandil besar pada catatan positif Barca di laga
away musim ini, di la liga, Messi dengan luar biasanya telah mencetak 21 gol di
13 pertandingan (terdepan di liga eropa), satu torehan yang akan membuat
barisan pertahanan Milan (yang tidak terlalu baik musim ini), akan sulit tidur
di malam-malam sebelum pertandingan.
Tak sabar menyaksikan laga ini? Satu
laga yang dinanti pecinta sepakbola, besar kemungkinan pula san siro akan penuh
sesak oleh penonton (ironisnya belum pernah terjadi di musim ini, bagi tuan
rumah), tapi bagaimanapun juga, seperti yang saya singgung di sepanjang
tulisan, jangan terlalu berharap banyak, karena mungkin duel ini akan
berlangsung sama seperti dua tahun terakhir, Mereka tak akan saling “membantai”
laiknya sebuah pertempuran besar penuh gengsi yang mempertaruhkan kehormatan.
No comments:
Post a Comment