Tuesday, February 26, 2013

Milan vs Barca, Duel bergengsi yang tak lagi berapi-api?


(Tulisan 19 Februari, jelang Leg 1, Milan vs Barcelona)

Kamis dini hari nanti, waktu Indonesia bagian barat, akan berulang lagi untuk kelima kalinya dalam dua tahun terakhir, satu duel yang punya cerita panjang dalam sejarah sepakbola antar klub eropa, Milan vs Barcelona.

Ya, untuk yang kelima kalinya dalam dua tahun terakhir, sebuah catatan yang menarik, untuk dua klub besar Eropa. Duel sarat gengsi yang sudah barang tentu mendebarkan bagi kedua kubu, terlebih Milan, yang beberapa tahun terakhir, kualitasnya di atas rumput tidak pernah lebih meyakinkan dari Barcelona.

Kita hitung saja dari pertemuan di dua tahun terakhir itu, dalam empat pertemuan, Milan tercatat hanya mampu meraup 2 poin dari kemungkinan dua belas poin, Barca? 6 poin lebih banyak, 8.

Cukup menciutkan nyali, tertuma bagi klub dengan retasan sejarah seperti Milan, yang diaku banyak orang, sebenarnya sedikit lebih harum dari klub asal Spanyol tersebut.

Tapi bagi yang mengikuti duel ini, mungkin merasakan apa yang saya rasakan, bahwa duel ini tak pernah begitu keras dan berapi-api seperti laiknya dua klub besar bertempur? Kita flashback dari awal perjumpaan sejak Max Allegri menukangi Milan, dua setengah tahun silam..

Di jumpa pertama, yang berakhir 2-2, Milan sempat “menjanjikan” saat unggul cepat saat pertandingan belum sampai satu menit, melalui Pato, setelah itu pertandingan berjalan lambat sampai pelan-pelan Barcelona berbalik unggul 2-1.  Tempo tak juga meninggi di babak kedua bahkan hingga menit akhir, saat kedua klub sudah “malas-malasan” bermain dan sepertinya Barca terlihat akan memenangi laga, di satu peluang terakhir yang tidak disangka-sangka, dari satu tendangan penjuru, Milan berhasil menyamakan kedudukan, lewat sundulan Thiago Silva.

Di jumpa kedua, (mungkin adalah yang paling menggigit), kali ini Milan menjadi tuan rumah, Barca unggul 3-2. Beberapa hal menarik terjadi, gol Solo run Ibra dari sisi Alves, Boateng dengan gol kelas dunianya, Xavi dengan tendangan dari luar kotak pinalti, tempo dan emosi yang sedikit lebih panas, selebihnya? Satu gol bunuh diri Van Bommel, satu gol pinalti Leo Messi.

Di jumpa ketiga, kembali terjadi di san siro, di leg 1 babak perempat final, ini adalah laga yang paling “sopan”, dengan hasil kaca mata, 0-0.

Di jumpa terakhir, di leg kedua, Barca melibas Milan 3-1, satu pertandingan yang kehilangan gairahnya ketika Barca berhasil merubah skor 1-1, menjadi 2-1, melalui pinalti kedua Messi di babak pertama (“pelanggaran” berupa tarikan baju ringan Nesta pada pemain barca sebelum bola ditendang dari corner) dan ketiganya dalam 4 pertandingan terakhir. Sampai kemudian Iniesta melengkapi dominasi klubnya atas Milan di menit 53. 3-1.

“Lesu”nya tensi permainan, mungkin disebabkan banyak hal, namun rasa saling kagum dan hormat pada masing-masing, secara tidak sadar ikut mempengaruhi apa yang terjadi di lapangan, rasa saling menghormati? Ya, seperti yang berulang-ulang diutarakan pemain, pelatih, bahkan pejabat dari kedua kubu di media-media massa, seperti yang diutarakan Xavi, “Milan adalah klub hebat, dengan tujuh gelar liga champions”. Xavi jelas tidak sedang bersikap sopan, Ia hanya sadar bahwa Barca tak boleh jumawa, satu hal yang beresiko tapi seperti halnya resiko, jumawa juga berpeluang membuat Barca mempermalukan Milan, tentu dengan pegangan apa yang mereka punya sekarang.

Bagaimana harapan pada dua duel di depan nanti, akan seperti apa jalannya pertandingan? Sulit untuk menebak, setidaknya saya, hilangnya pemain-pemain yang berpotensi membawa permainan pada tensi tinggi, terutama dari kubu Milan, seperti Ibra, Cassano, Gattuso, atau Nesta, bisa jadi akan semakin memperparah, terlebih duel ini juga akan kehilangan Mario Balotelli dan David Villa, dua pemain yang punya potensi membuat pertandingan jadi sebuah pertempuran (Milan juga masih menunggu kepulihan El Sharaawy).

Sekarang kita lihat sedikit catatan kedua kubu di laga home and away musim ini?

Torehan Milan musim ini di san siro, di ajang Liga Champions sangat buruk, hanya mampu meraup 2 dari kemungkinan 9. Namun, angin positif datang dari 6 pertandingan terakhir mereka di san siro, mereka sanggup meraup poin maksimal, 18 poin, mencetak 13 gol dan kebobolan 5 gol. Bahkan poin yang diraih Milan di tahun 2013 ini, lebih banyak dari klub manapun di seri-a, termasuk Juventus, sang pemuncak klasemen. Bekal yang mungkin bisa mengangkat moril anak asuh Max Allegri itu.

Nah, yang jadi soal adalah torehan barca di laga away mereka musim ini begitu meyakinkan, hanya 1 kali kalah, mereka mencatat 2 imbang dan 11 kali menang, mencetak 40 gol dan kemasukan 18 di 13 laga. Dengan total memenangi 21 dari 24 pertandingan di liga musim ini, membawa mereka bertengger di puncak klasemen, unggul 16 poin dari seteru abadi real Madrid yang berada di posisi ketiga, dan 12 poin dari peringkat kedua, Atletico Madrid (Di Liga Champions, dari 3 laga away, Barca meraup 6 poin dari maksimal 9).

Sulit untuk tidak mencatut Lionel Messi pada tulisan ini, kendati Leo punya catatan yang tidak mengkilau jika bersua dengan klub asal Italia, dengan hanya mencetak 3 goal (semua pinalti) dari 8 pertandingan, Messi berandil besar pada catatan positif Barca di laga away musim ini, di la liga, Messi dengan luar biasanya telah mencetak 21 gol di 13 pertandingan (terdepan di liga eropa), satu torehan yang akan membuat barisan pertahanan Milan (yang tidak terlalu baik musim ini), akan sulit tidur di malam-malam sebelum pertandingan.

Tak sabar menyaksikan laga ini? Satu laga yang dinanti pecinta sepakbola, besar kemungkinan pula san siro akan penuh sesak oleh penonton (ironisnya belum pernah terjadi di musim ini, bagi tuan rumah), tapi bagaimanapun juga, seperti yang saya singgung di sepanjang tulisan, jangan terlalu berharap banyak, karena mungkin duel ini akan berlangsung sama seperti dua tahun terakhir, Mereka tak akan saling “membantai” laiknya sebuah pertempuran besar penuh gengsi yang mempertaruhkan kehormatan.

No comments:

Post a Comment